Disabilitas Bukan Berarti Tidak Mampu Sama Sekali, Hanya Terbatas Melakukan Kegiatan Tertentu

Menurut WHO, disabilitas adalah keadaan seseorang dengan keterbatasan pada fungsi dan/atau struktur tubuh sehingga mengalami kesulitan untuk melakukan sesuatu. Keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas (atau lebih sering disebut dengan difabel) sering membuat mereka mendapat diskriminasi, baik dari keluarga maupun lingkungan kerja. Penyandang difabel pun tidak mengenal usia. Ada juga penyandang difabel anak-anak, di mana mayoritas mereka mengalaminya sejak lahir.

Meski era teknologi telah berkembang dan pola pikir menjadi lebih terbuka, namun pandangan terhadap penyandang disabilitas sebagai beban dan tidak memiliki kemampuan sama sekali masih bisa dijumpai dari sekarang. Hal ini dapat disebabkan pengetahuan mengenai disabilitas yang belum menyebar secara merata. Orang-orang awam masih belum menyadari bahwa penyandang disabilitas ada yang memiliki kecerdasan yang sama, bahkan mungkin melebihi orang-orang normal. Seringkali muncul konsep bahwa penyandang disabilitas sama seperti orang sakit dan tidak berdaya, padahal konsep tersebut tidak benar.

Banyak penyandang disabilitas yang menjadi sosok inspiratif karena prestasi yang mereka ukir. Bahkan ada pula penyandang disabilitas yang mengikuti kejuaraan olah raga tingkat nasional maupun internasional. Meskipun begitu, pada awalnya mereka juga merasakan diskriminasi dari lingkungan rumah, tetangga, bahkan orang-orang asing. Diolok-olok adalah hal biasa. Bagi penyandang disabilitas yang tidak mampu menahan beban mental, mereka akan menjadi depresi dan emosional. Di sinilah letak pentingnya dukungan sosial untuk penyandang disabilitas agar mereka tetap bersemangat melanjutkan hidup.

Difabel tidak berarti menjadi hambatan untuk menjalani kehidupan. Mereka hanya sedikit berbeda, namun tetap mampu melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan orang-orang normal. Pemerintah kini sedang berupaya untuk memberi dukungan, baik secara moral maupun material, bagi penyandang disabilitas. Lapangan kerja baru mulai terbuka, bahkan mayoritas pekerjanya adalah penyandang disabilitas. Perusahaan pun juga mulai membuka kesempatan untuk penyandang disabilitas yang ingin bekerja. Tentu saja pemilik perusahaan harus mampu memenuhi fasilitas dan layanan bagi penyandang disabilitas, sebab ruang gerak mereka akan terbatas dibanding orang-orang normal. Langkah-langkah inilah yang akan mendukung tujuan Indonesia Ramah Disabilitas.